Kisah Imam Al Amidi: Ulama’ yang Terusir dari Mesir

 

Kisah Imam  Al Amidi: Ulama’ yang Terusir dari Mesir

Syahadat.id - Setiap nikmat Allah yang diberikan kepada manusia pasti ada orang yang dengki, iri hati. Tetangganya membeli kulkas hatinya panas, saudaranya beli apartemen pikirannya menjadi sentimen.

Dengki atau Hasud merupakan penyakit yang ada di hati setiap manusia. Penyakit ini sangat membahayakan diri seorang muslim maupun orang lain, karena ia selalu berharap agar orang lain tak merasakan kenikmatan atau kebahagian bahkan ia selalu berharap nikmat orang lain dicabut darinya. Sungguh hal ini sangat berbahaya bagi orang lain karena ia selalu resah dan gelisah atas keberhasilan seseorang.


Cara untuk mengobati sifat dengki ini

 

Pertama dengan ilmu. Dengan adanya ilmu tentang dengki maka ia akan mengetahui hakikatnya secara mendalam bahwa dengki sangat berbahaya untuk dirinya, terutama dalam hidup bersahabat dengan tetangga, maupun partner kerja.


Kedua dengan amal perbuatan. orang yang akan Hasud berusaha mengendalikan diri baik perkataan maupun perbuatan untuk tidak melakukan hal terlarang dengan berusaha mencegahnya. Bila mendapatkan nikmat harus disyukuri agar nikmatnya semakin berkah dan bertambah, serta menjauhi dengki dari orang lain dengan meyakini bahwa setiap orang membawa Rizki nya masing-masing.


Dengan ilmu dan amal manusia berusaha mengarahkan dirinya agar menjadi orang yang yakin akan pemberian Rabbnya, serta menjaga diri agar tak menjadi orang yang mempunyai perilaku yang kurang baik.


Kisah Imam  Al Amidi: Ulama’ yang Terusir dari Mesir


Imam Al-Amidi salah satu ulama’ yang pakar diberbagi bidang keilmuan pernah mengalami ujian seperti ini. Ia pernah terusir dari Mesir dikarenakan sifat dengki yang dilakukan oleh sebagian pakar ilmu yang tak suka dengan dirinya dengan menulis keburukan atau kesesatannya. Kejadian ini pernah diungkap oleh Syeh Muhammad bin Hasan As-Sa’alaby dalam kitab Al-Fikru As-Sami fi Fi Tarikh al-Fikhi al-Islami.

Baca juga:


Nama lengkap imam Al-Amidi yaitu Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Salim dan lebih dikenal dengan sebutan Saifuddin Al-Amidi.  Ia lahir pada tahun 551 H/1156 M di daerah Amid. Ia dikenal pakar fikih dan usul fikih serta ahli kalam (teolog). Bahkan sulthan Ulama’ Izzudin bin Abdussalam pengarang kitab Qawaid al-Kubra menyatakan bahwa dirinya mengerti dan memahami kaidah-kaidah pembahasan ilmu dari imam Al-Amidi.

Menurut imam Ibnu Katsir dalam kitab Tabaqat as-Syafi’iyyin menjelaskan bahwa imam Al-Amidi pernah belajar qira’at kepada Syeh Muhammad As-Shafar. Kemudia ia melanjutkan belajarnya ke daerah Bagdad, Syam, dan Mesir.

Saat di Baghdad, ia memulai belajar  dan menghafal kitab Al-Hidayah yang beraliran madzhab Imam Hambali. Ia  juga mendalami perdebatan di dalamnya sampai menghantarkan dirinya menjadi seorang pakar.  Setelah itu, ia beralih mengikuti  madzhab syafi’i.

Menurut Imam As-Subuki dalam Tabaqat as-Syafi’iyyah bahwa imam Al-Amidi memiliki banyak karangan, diantaranya adalah kitab Al-Abkar fi Ushuliddin, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam kitab tentang usul fikih.

Imam al-Amidi meninggal dunia pada hari selasa 4 shafar pada tahun 631 H dan dimakamkan di kaki gunung Qasiyun. (Mas)