Aku Pulang

 

pulang
Aku pulang

Syahadat.id - Deras hujan melarutkan lamunanku semakin jauh saat aku terduduk di samping jendela kamar persegi-ku, lantai keramik putih kini telah usang kekuningan diwarnai oleh waktu yang telah kuhabiskan bersamanya selama hidup singkatku ini.

Dinding hijau mint yang penuh dengan guratan, bekas cap tangan, tempias air, retakan kecil, dan foto-foto kecil menghiasi setiap sudutnya.

Lampu kuning keemasan berkelap-kelip selaras dengan sambaran petir yang tak kunjung juga pergi, air terus berjatuhan dari langit—menyisakan putih kelabu dan warna-warni pelangi yang indah, tak lupa semerbak tanah dan dedaunan yang dihinggapi tetes demi tetes air hujan. 

Aku, selalu menyukai hujan.

Bagiku hujan ini adalah rizki dari-Nya untuk kami semua yang berada di genggaman-Nya, tua maupun muda, lelaki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, manusia, tanaman, hewan—semuanya bersuka cita saat turunnya anugerah berupa aliran air yang membasahi dan membersihkan tanah kami, raga kami dari segala yang tak suci.

Kelabu membias menandakan tuntasnya hujan lebat pada sore hari yang indah ini, memecah lamunanku yang tiada habisnya. Aku beranjak dari tempat dudukku di lantai keramik ini, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore, jarum panjang tepat menunjuk angka dua belas.

Aku membuang muka, menahan amarah yang bergejolak saat melihat angka itu. Telah 20 tahun lamanya kuhabiskan bersama angka itu, ditemani oleh tumpukan tugas dan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Baca juga:

Jangan Mudah Menyimpulkan Perasaan Orang Lain

Cangkir demi cangkir kopi, teh, dan susu memenuhi mejaku yang telah usang dimakan usia. Hanya merekalah saksi bisuku menjalani hari demi hari, hanya untuk menjadi sedikit lebih baik dari beberapa orang.

Aku teringat kembali semasa itu, dimana tidak terdapat malam yang sunyi di samping jendelaku. Musik klasik beralun dari laptop abu-abuku, menemani masa-masa sulit namun indah yang telah kujalani.

Kini ku menatap bayanganku di kaca besar berpinggiran cokelat tua—hadiah dari ibuku disaat umurku masih 19 tahun. Aku mengusap debu yang terkumpul di pojok kaca, tampaknya kamar ini dibiarkan sebagaimana adanya setelah aku pergi bekerja ke Jakarta.

Pikiranku berbalik ke kota gemerlap penuh cahaya dan hiruk pikuk itu, kota dimana malam tidak pernah mati. Aku ingat canda tawa di pesisir pantai, senyum manis di kafe ditemani cangkir kopi, malam-malam hangat disamping angkringan, barang-barang di pasar malam, dan pahitnya teh hijau selepas ditolaknya job interviewku.

Aku beralih kembali ke dunia nyata sambil mengenakan jas abu-abuku, dan merapihkan jilbab hitamku yang tidak karuan. Aku berpamitan kepada keluargaku, namun nampaknya mereka tak mendengarnya.

Biarlah, mereka kelihatannya sangat sedih dan letih—andai saja pandemi ini segera berakhir, sehingga bisnis ibu untuk mendirikan butik dapat akhirnya terwujud. 

Sampai di ruang tamu, aku berpapasan dengan foto kami sekeluarga. Disana tepampang wajah berseri-seri ibuku, ayahku, adik dan kakakku, dan juga aku. Foto itu diambil ketika kami sekeluarga pergi naik haji, kami berfoto tepat didepan masjid nabawi. Sungguh, bulan itu merupakan bulan yang indah dan mengesankan.

Aku mengenakan sepatu hitamku dan membuka pintu seraya berkata “Assalamu’alaikum!”. Aku kemudian beranjak menyusuri tepian jalan, menghindari lalu-lalang mobil dan motor yang saat malah hari ini masih saja ramai dengan segala aktivitasnya.

lorong
Jalan pulang


Padahal, malam sabtu ini aku berniat untuk mengajak teman-teman dekatku untuk makan bersama di restoran favoritku—untuk merayakan hasil kerja kerasku, karena akhirnya aku mendapatkan promosi dan naik jabatan yang sudah lama aku impikan.

Tapi tak apa, waktu masih lama. Aku masih memiliki waktu 30 menit lagi untuk sampai disana, akan kuhabiskan waktu yang tersisa dengan sebaik yang aku bisa untuk menikmati pemandangan dan alam yang terhampar luas.

Baca juga:

Santri Kepepet (vol.2) Kepergok Bu Nyai dalam Mimpi


Setelah puas memanjakan mata dengan pemandangan sekitar, sampailah aku di tempat yang aku tuju—persimpangan lampu merah dekat dengan zebra cross di depan kantor tempat aku bekerja.

Bohong bila aku berkata jika aku tidak akan merindukan semua ini, namun, sekarang aku sudah punya tujuan akhir yang lebih baik. Aku melintasi zebra cross untuk terakhir kalinya.

Kali ini jalanan sepi tanpa lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki. Bercak merah masih berada dan menggenang dibawah kakiku, ya—karena hal itu terjadi hanya beberapa jam yang lalu.

Hari sudah malam, langit sudah dihiasi bintang-bintang yang berkelip dengan indah. Kini saatnya aku pulang, mungkin esok hari kita akan bertemu lagi di tempat dan waktu yang lebih baik.


Penulis: Harsari Irzha Rahmadianti