KH. Hasyim Asy’ari dan Tasawuf

 KH. Hasyim Asy’ari dan Tasawuf

Syahadat.id - KH. hasyim Asy’ari merupakan salah satu pahlawan nasional yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia serta sebagai ulma’ kharismatik pendiri Nahdhatul Ulama’ (NU) yang memiliki banyak pengikut sampai saat ini. Beliau dilahirkan di desa Gedang, daerah Jombang pada hari selasa, 24 Dzulqa’dah 1284 H. Nasab beliau sampai kepada Joko Tingkir penguasa kerajaan Pajang.


Beliau ulama’ yang sangat mumpuni dalam berbagai disiplin keilmuan islam seperti hadist, fikih, tasawuf serta aktif dalam mengkader banyak kiai-kiai yang tersebar ke seluruh Nusantara.

Dalam bidang tasawuf, beliau meninggalkan karya yang berjudul Hadihi ar-Risalah Jami’ah al-Maqasid. Di dalam kitab tersebut membahas tentang akidah islam sebagai dasar-dasar agama dan membahas tentang urusan ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan umrah serta ditutup dengan pembahasan tentang ajaran-ajaran tasawuf. Beliau ingin mengkombinasikan antara ilmu syariat, thariqat, dan hakikat.  

Baca juga: Petuah KH. Hasyim Asy’ari dalam Menyikapi Perbedaan

Dalam memasuki dunia tasawuf, KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan akan pentingnya memahami dasar-dasarnya sehingga mudah dipahami dan dipraktekkan dalam kehidupan serta mampu menjawab berbagai macam tuduhan seputar tasawuf. Beliau menjelaskan dasar-dasar ilmu tasawuf yang harus diketahui oleh  bermuara kepada lima hal. 

Pertama, memilik ketakwaan kepada Allah dan kondisi apapun baik dikala sendirian atau dengan orang lain. Hal ini dapat diwujudkan saat seseorang berhati-hati dalam menyelesaikan permasalahan terutama yang menyangkut masalah hokum serta konsisten (istiqamah) dalam beramal kebaikan.

Kedua, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dalam prilaku maupun ucapan. Caranya dengan mempraktekkan ajaran nabi sesuai dengan kemampuan serta memiliki akhlak yang baik kepada Allah dan kepada makhluk-Nya. 

Ketiga, tak terlalu bergantung kepada orang lain dengan cara bersabar dalam berusaha secara maksimal serta menyerahkan urusannya kepada Allah (tawakkal).

Keempat, menerima (ridha) pemberian Allah saat nikmat itu  banyak ataupun sedikit. Kenikmatan ini dapat dirasakan jika memiliki rasa qana’ah atau menerima dengan lapang dada segala pemberian-Nya.

Kelima, selalu mengembalikan segala permasalahan yang ia hadapi kepada Allah dengan cara mensyukuri nikmat-Nya serta selalu berpegang teguh kepada-Nya.

Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu tasawuf bersumber kepada ajaran-ajaran islam terutama harus sesuai al-Qur’an serta mengikuti sunnah Nabi yang menjadi dasar berpijak serta mengikuti ajaran sahabat dan tabi’in maupun ulama’ setelahnya dalam melangkah untuk mengarungi kehidupan dengan sikap dan prilaku yang baik terutama dalam menata hati sehingga tercermin sikap yang moderat serta ramah kepada siapapun. (Mas)