Etika Manusia kepada Allah

 

Etika Manusia kepada Allah


Syahdat.id - Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam memiliki  hak prerogatif untuk mewujudkan sesuatu ataupun tidak. Dia berhak menjadikan sesuatu yang Ia kehendaki ataupun menghancurkannya. Sifat ini bahwa Dia Maha sempurna dan Maha kaya atas segala-galanya.

Allah berhak memilih para kekasih-Nya mulai para Nabi dan Rasul juga para wali-Nya tak pandang bulu, dari kasta apapun, kaya atau miskin, pejabat ataupun rakyat. Hal yang mendasar yang dijadikan pijakan adalah ketakwaan seseorang bukan kekayaan ataupun ketampanan begitu juga tak melihat dari segi  kedudukan dihadapan manusia.


Abu Abdurrahman as-Sulami dalam Tabaqat As-Sufiyah mengutip perkataan Imam Abu Amr ad-Dimasyqi,


ﻛﻤﺎ ﻓﺮﺽ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺇﻇﻬﺎﺭ اﻵﻳﺎﺕ ﻭاﻟﻤﻌﺠﺰاﺕ ﻟﻴﺆﻣﻨﻮا ﺑﻬﺎ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ اﻷﻭﻟﻴﺎء ﻛﺘﻤﺎﻥ اﻝﻛﺮاﻣﺎﺕ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻔﺘﺘﻦ اﻟﺨﻠﻖ ﺑﻬﺎ

Allah mewajibkan kepada para Nabi untuk memperlihatkan ayat-ayat dan mukjizat-Nya supaya kaumnya menjadi beriman begitu juga seorang Waliyullah (Kekasih Allah) wajib menyembunyikan karamat (kemuliaan) supaya manusia tak terkena fitnahnya.

Cara Berakhlak dengan Allah


Ajaran Islam mengajarkan pentingnya beretika, akhlak dengan Allah sebagai Sang Khalik, juga kepada semua Makhluk-Nya terutama kepada Rasul-Nya, dan kepada manusia yang lain seperti kepada orang tua, anak, saudara, tetangga, teman kerja, atasan, bawahan, rakyat, pejabat, orang kaya, miskin, yang berpendidikan atau kepada pedagang asongan. Karena tanpa etika manusia tak akan ada harganya, tanpa adanya adab manusia akan menjadi makhluk yang biadab, bila tak ada sopan santun niscaya manusia tak akan menjadi seorang penuntun. Orang yang tak mempunyai akhlak bisa dipastikan jiwanya sedang bergejolak


Lalu, bagaimana caranya kita beretika dengan Allah?

Syeh Ali Ahmad AL-Jurjawi dalam kitab Hikmat at-Tasyri’ wa Falsafatuhu menjelaskan bahwa etika atau beradab dengan Allah terangkum kedalam tiga hal, yaitu:



Pertama, mengikuti perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-nya seperti mengerjakan hal-hal yang wajib misalanya: Shalat, Puasa, Zakat, Haji, atau amalan yang sunnah (bila dikerjakan akan mendapatkan pahala) misalnya membantu kepada fakir miskin atau yang terkena bencana.


Kedua, beramal menggunakan berbagai macam cara maupun sebab yang akan mendatangkan ridhanya, seperti mencintai rasulnya dengan memperbanyak shalawat kepadanya, atau selalu mendoakan kepada orang mukmin yang masih hidup atau yang telah meninggal.


Ketiga, dengan berusaha tak menuruti kehendak nafsu (Mujahadah), serta mengarahkannya kepada hal-hal yang positif.


Syeh Muhammad bin Abdul Karim dalam Mausuah al-Kisanzan mengutip pendapat Syeh Mahmud bin Hasan al-Farkawi yang menjelaskan bahwa:


الأدب مع الله بتعظيم شعائر الله ، ومع الخلق بالصمت والمحبة

Cara beretika dengan Allah adalah dengan mengagungkan Syiar-syiar Agamanya, serta bergaul makhluk-Nya khususnya manusia dengan rasa hormat dan rasa menghargai.

Sedangkan menurut pemaparan Muhammad ibnu Sirin:


أقرب الآداب إلى الله : معرفة ربوبيته ، والعمل بطاعته ، والحمد على السراء ، والصبر على الضراء

Adab yang paling dekat dengan Allah adalah dengan mengenal (makrifat) sifat ketuhanan-Nya, taat kepada-Nya, dan banyak memuji-Nya dikala waktu lapang, serta bersabar dalam menghadapi kesusahan.

Hal-hal diatas merupakan cara beretika dengan Allah. Bila manusia mau menjalankannya niscaya Allah akan memberikan petunjuk dalam setiap masalah yang ia hadapi.


Penjelasan ini sebagai bukti bahwa seorang kekasih Allah tak gila pengakuan apalagi gila jabatan, nikmat yang telah diberikan kepadanya dijadikan motivasi untuk selalu bersyukur kepada-Nya sehingga nikmat yang ia terima selalu bertambah banyak. Seorang Waliyullah tak ingin membingungkan para pengikutnya dengan tak memperlihatkan kelebihan yang ada pada dirinya. Ia berusaha menyembunyikan dari khalayak masyarakat.


Moh afif sholeh, M.Ag